Hari-hari Terakhir Kebebasan Berpendapat Kita

Represi tak lagi datang lewat kekerasan, tetapi hukum. KUHP baru menjadikan kritik berisiko dan demokrasi kehilangan substansi partisipatifnya.

Penulis: Daniel Winarta (Dimuat di Opini LBH Jakarta, 29 Desember 2025)

Artikel “Hari-hari Terakhir Kebebasan Berpendapat Kita” menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase penyempitan serius kebebasan berekspresi, terutama seiring berlakunya KUHP baru dan arah pembaruan KUHAP. Negara tidak lagi sekadar abai melindungi hak warga, tetapi justru membangun kerangka hukum yang memungkinkan kriminalisasi kritik melalui pasal-pasal karet, seperti penghinaan terhadap penguasa dan pembatasan ekspresi yang multitafsir. Kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi perlahan direduksi menjadi hak bersyarat, sangat bergantung pada tafsir dan kepentingan kekuasaan.

Artikel ini juga menyoroti bahwa represi kini bekerja terutama melalui instrumen hukum dan prosedur pidana, menciptakan chilling effect yang mendorong swasensor luas di kalangan warga, jurnalis, dan aktivis. Ancaman hukum—bahkan tanpa vonis—cukup untuk membungkam kritik dan melemahkan ruang publik yang deliberatif. Jika tren ini dibiarkan, penulis memperingatkan bahwa demokrasi Indonesia berisiko tereduksi menjadi prosedural semata, kehilangan substansi partisipasi warga, dan bergerak menuju otoritarianisme yang dilegitimasi oleh hukum.[]

Baca Lainnya

UU Polri dan Problem Rangkap Jabatan Polri Aktif di Jabatan Sipil

Putusan MK melarang Polri aktif di jabatan sipil tanpa pensiun. Namun, UU Polri baru justru berisiko melanggengkan praktik rangkap jabatan dengan dalih penugasan.

Why the INGO System Remains Stuck and How We Shift It

Meski lokalisasi semakin populer, sistem bantuan global dinilai masih mempertahankan ketimpangan kuasa yang menghambat perubahan.

Ruling Indonesia: Jokowi’s Presidency in an Age of Democratic Crisis and Great Power Competition

Warisan Jokowi digambarkan sebagai paradoks: Indonesia tumbuh lebih kuat secara ekonomi, tetapi mengalami kemunduran demokrasi.

Catatan Penilaian Situasi Ruang Sipil dan Keterlibatan Publik di Provinsi Sulbar Tahun 2025

Konsolidasi masyarakat sipil Sulbar menyoroti kebutuhan memperkuat konektivitas, pengetahuan bersama, dan agenda advokasi kolektif.