Forum lintas OMS di DIY merefleksikan menyempitnya ruang sipil, dominasi isu lingkungan, lemahnya kolaborasi, serta urgensi jejaring kolektif lintas generasi.
Yogyakarta, 20 Januari 2026 — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menginisiasi pertemuan organisasi masyarakat sipil (OMS) lintas isu dalam forum bertajuk “Refleksi dan Antisipasi: Membangun Imajinasi Kolektif mengenai Ruang Gerak dan Keterlibatan Masyarakat Sipil yang Efektif”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada 19–20 Januari 2026, bertempat di Sekretariat CEA, Yogyakarta.
Dari 25 organisasi yang diundang, hanya tujuh organisasi yang hadir, dengan mayoritas peserta merupakan anggota Walhi DIY. Beragam alasan melatarbelakangi rendahnya kehadiran OMS, namun salah satu kesan yang muncul di ruang diskusi adalah anggapan bahwa tema ruang sipil dan keterlibatan masyarakat sipil belum dianggap menarik oleh sebagian organisasi.
Meski demikian, forum ini tetap menjadi ruang refleksi penting, terutama dalam membaca situasi ruang sipil DIY yang saat ini banyak dipahami melalui perspektif isu lingkungan. Proses refleksi diawali dengan sesi “membaca konteks”, yang disusun berdasarkan bidang kerja organisasi peserta. Dari perkenalan dan pemetaan isu, muncul lima klaster besar, yaitu:
- Pangan (pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan).
- Tata ruang (perumahan dan permukiman, wilayah urban dan rural),
- Lingkungan (energi, krisis iklim, sampah, tambang ilegal, alih fungsi lahan).
- HAM dan demokrasi (termasuk hak-hak konsumen), serta.
- Inklusivitas (minoritas, keragaman gender, disabilitas, lansia, perempuan dan anak).
Hasil bacaan konteks menunjukkan bahwa isu lingkungan mendominasi dan tersebar luas, terutama di wilayah Kota Yogyakarta, Bantul, dan Sleman, serta merambah wilayah pinggiran dan kawasan penyangga. Di perbatasan Gunungkidul–Pacitan, keberadaan industri semen dan PLTU Pacitan dinilai memberi dampak signifikan terhadap ekosistem Gunungkidul. Hal serupa juga terjadi di perbatasan Kulonprogo–Cilacap, dengan keberadaan PLTU dan kawasan industri. Selain itu, perkembangan pariwisata yang massif turut memengaruhi tata ruang, meningkatkan potensi bencana, serta memunculkan persoalan sosial baru.
Sayangnya, tidak adanya keterwakilan organisasi dengan fokus isu perempuan dalam forum ini membuat isu-isu sosial, khususnya yang berdampak pada kelompok rentan, belum tergali secara mendalam.
Dari sisi pengorganisasian, upaya pendampingan komunitas dinilai masih berjalan secara terpisah dan belum saling terhubung lintas isu. Ketergantungan komunitas terhadap lembaga pendamping masih tinggi, sehingga proses lahirnya para penggerak perubahan dari dalam komunitas sendiri berjalan lambat. Kondisi ini menegaskan pentingnya menemukan pola pendekatan baru yang mendorong kemandirian di tingkatan basis.
Dalam hal advokasi, kolaborasi antarlembaga juga dinilai belum optimal. Pengetahuan dan pengalaman advokasi yang dimiliki masing-masing organisasi belum dimanfaatkan secara kolektif, termasuk dalam pengelolaan dan penggunaan data bersama. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini adalah adanya kesenjangan generasi, di mana kekuatan tiap generasi belum menemukan titik temu untuk saling menguatkan gerakan.
Keterhubungan yang lemah antarorganisasi juga berdampak pada minimnya ruang kreatif dan inovasi dalam gerakan masyarakat sipil. Teknologi belum sepenuhnya diposisikan sebagai aktor penting dalam proses adaptasi dan penguatan gerakan. Keterbatasan sumber daya serta kurangnya pemanfaatan potensi lokal menjadi tantangan tambahan bagi OMS di DIY.
Dalam konteks pelibatan sipil, keistimewaan Yogyakarta dipandang menghadirkan paradoks. Kedaulatan absolut yang melekat pada sistem keistimewaan justru dinilai berpotensi menghambat praktik demokrasi. Kesadaran kritis warga terbelah antara loyalitas budaya dan tuntutan politik, sementara gerakan demokrasi masih berjalan parsial dan belum saling menguatkan. Situasi ini menegaskan pentingnya membangun jejaring yang adil dan setara antaraktor masyarakat sipil.
Forum refleksi ini tidak hanya menjadi ruang berbagi cerita, perenungan dan analisis situasi ruang sipil, tetapi juga menjadi ruang perkenalan dan penguatan jejaring. Lebih jauh, pertemuan ini mendorong keterlibatan generasi muda, khususnya Gen Z, untuk mengambil peran dalam menggerakkan perubahan.
Dimas, selaku penanggung jawab kegiatan, menyampaikan bahwa organisasi yang hadir sepakat untuk menjadi bagian dari jaringan CEA regio DIY. Jaringan ini ke depan akan dipimpin oleh dua perwakilan generasi muda, yakni Aldi dan Febi, sebagai upaya mendorong regenerasi kepemimpinan dalam gerakan masyarakat sipil di Yogyakarta.[]
