Yuli kehilangan dua anak karena HIV. Dari stigma, tuduhan kejam, ia menjadi aktivis yang memastikan tak ada ibu lain kehilangan anak karena ketidaktahuan.
Kisah Yuli Perempuan yang Bangkit dari Reruntuhan untuk Mengubah Dunia
Tubuh mungil itu hangat di pelukannya. Sekuat tenaga Yuli mendekap bayinya, seolah dengan kekuatan cinta seorang ibu, ia bisa melindungi anaknya dari segalanya—dari tatapan dunia yang kejam, dari penyakit yang tak terlihat namun begitu menakutkan, dari takdir yang terasa begitu berat untuk dipikul oleh bahu seorang ibu.
“Aku akan merawatnya sendiri,” bisiknya pelan, suara itu lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. Sebuah janji. Sebuah sumpah dari seorang ibu yang hatinya baru saja remuk berkeping-keping.
Dokter baru saja mengucapkan kata-kata yang menghancurkan: HIV.
Bayi perempuannya—anaknya yang keempat, yang baru saja dilahirkan dengan susah payah—positif HIV.
Yuli pernah merasakan sakit. Ia pernah kehilangan. Dua suaminya meninggal, satu demi satu, meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Tapi rasa sakit itu, kehilangan itu, tak ada yang sebanding dengan momen ketika dokter memberinya vonis tentang bayinya.
Bahkan lebih sakit dari ketika ia sendiri didiagnosis positif HIV setelah suami keduanya meninggal.
“Kenapa harus anakku?” tanyanya dalam hati, air mata mengalir deras membasahi pipi yang sudah pucat.
Awal yang Tak Pernah Dia Ketahui
Yuli tidak langsung tahu. Tidak ada yang memberitahunya. Saat anak keduanya lahir—seorang perempuan cantik yang menjadi alasan ia bertahan hidup—tidak ada yang mengatakan bahwa anaknya juga membawa virus yang sama. Tidak ada informasi. Tidak ada edukasi. Tidak ada yang peduli untuk menjelaskan.
Ia hidup dalam kegelapan informasi, hingga suami kedua meninggal karena HIV. Dunianya runtuh. Dan baru lah ia tahu—ia HIV positif.
Anak ketiganya lahir sehat. Syukur, pikirnya saat itu.
Namun pengetahuannya tentang penyakit ini masih begitu minim. Ia tidak tahu bagaimana virus ini menyebar. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dalam kebingungan dan kesepian, ia menikah lagi, berharap bisa memulai hidup baru.
Lalu datanglah anak keempat.
Dan vonis itu.
“Ibu, anaknya positif HIV.”
Dunia seakan berhenti berputar. Nafasnya sesak. Lantai rumah sakit terasa miring. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang. Ia ingin lari, tapi kakinya tak bergerak.
Ia merasa terkubur hidup-hidup, jauh di dalam bumi, di tempat yang gelap dan sunyi, tempat di mana tak seorang pun yang bisa mendengar teriakan hatinya.
Hidup dalam Tatapan Menghakimi
Setelah itu, hidup Yuli bukanlah jalan yang terang benderang. Ia hidup di bawah sorotan mata yang menghakimi, di bawah bisikan-bisikan yang memojokkan.
“Perempuan nakal.” “Pasti hidupnya sembarangan.” “Pantas saja kena penyakit kayak gitu.”
Stigma itu menempel seperti duri yang tak bisa dicabut. Setiap kali ia berjalan, ia merasakan tatapan itu. Setiap kali ia berbicara, ia mendengar bisikan itu. Telunjuk-telunjuk itu seolah selalu mengarah padanya, menyalahkannya, mengutuknya.
Lalu datanglah tuduhan yang paling menusuk: pembunuh.
Ketika anak keduanya meninggal karena HIV, keluarga dan orang-orang di sekitarnya menuduhnya sebagai penyebab kematian anaknya sendiri. “Kamu yang membunuhnya!” kata mereka. “Karena kamu, anak itu mati!”
Kemudian anak keempatnya juga pergi. Meninggalkan dunia ini terlalu cepat, terlalu muda. Dan tuduhan itu datang lagi, lebih keras, lebih kejam: “Pembunuh!”
Kata-kata itu menikam lebih dalam daripada pisau mana pun. Bagaimana mungkin seorang ibu yang telah kehilangan dua anaknya—dua jiwa yang paling ia cintai di dunia ini—harus mendengar dirinya disebut sebagai pembunuh? Bagaimana mungkin rasa sakit atas kehilangan itu harus ditambah dengan rasa sakit atas tuduhan yang begitu kejam?
Ia ingin berteriak, “Aku juga tidak tahu! Tidak ada yang memberitahuku!” Tapi siapa yang akan mendengar? Siapa yang akan percaya?
Setelah kelahiran anak kelima, ia bangkit dan memutuskan untuk melakukan tes HIV untuk semua anaknya. Hasilnya mengejutkan: dua dari lima anaknya (anak kedua dan keempat) positif HIV. Momen ini menjadi titik keruntuhan sekaligus kebangkitan baginya. Bahkan anak kelima yang tidak terinfeksi pun ikut terdampak stigma, dilabeli sebagai anak penyandang HIV oleh masyarakat.
Tapi yang lebih berat dari semua itu adalah penyakit yang menyerangnya. Tubuhnya panas seperti terbakar dari dalam. Gatal yang tak tertahankan menyerang seluruh kulitnya. Kulitnya melepuh, terkelupas, hingga orang-orang tak sanggup melihatnya tanpa rasa jijik.
Ada hari-hari ketika ia ingin menyerah. Ada malam-malam ketika ia menangis sendirian, bertanya pada Tuhan, “Sampai kapan?”
Tapi ia ingat anaknya. Ia ingat pelukan pertama yang ia berikan pada bayi perempuannya. Ia ingat janjinya.
Maka ia bangkit. Ia kembali ke dokter.
Dokternya terkejut melihatnya. “Kamu masih hidup?” tanya sang dokter, hampir tak percaya.
Yuli tersenyum tipis, lelah tapi teguh. “Ya, Dok. Saya akan tetap berjuang untuk hidup.”
Dari Korban Menjadi Pejuang
Sejak hari itu, Yuli bertekat: tidak akan ada lagi yang mengalami apa yang ia alami. Tidak akan ada lagi ibu yang kehilangan anaknya karena ketidaktahuan. Tidak akan ada lagi perempuan yang dikubur hidup-hidup oleh stigma dan diskriminasi.
Ia mulai belajar. Ia mencari tahu segala hal tentang HIV AIDS—bagaimana penularannya, bagaimana pencegahannya, bagaimana hidup dengan penyakit ini tanpa harus kehilangan martabat.
Dan kemudian, ia melangkah keluar. Ia menjadi aktivis. Ia mendampingi orang-orang dengan HIV AIDS, memberikan mereka informasi, memberikan mereka harapan, memberikan mereka pelukan yang sama hangatnya dengan pelukan yang ia berikan pada anaknya dulu.
Ia kehilangan dua anaknya—anak kedua dan keempat—karena HIV. Kehilangan itu meninggalkan luka yang tak akan pernah sembuh. Tapi alih-alih runtuh, Yuli berdiri. Tegak. Kokoh. Seperti pohon yang akarnya sudah menembus ke inti bumi.
Ia berdiri bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua perempuan, semua anak, semua orang yang hidup dengan HIV AIDS dan harus menghadapi dunia yang tidak memahami mereka.
Pelukan yang Tak Akan Pernah Kulepaskan
Ketika Yuli bercerita tentang hidupnya di sela-sela kegiatan Konsolidasi CEA, suaranya tenang. Tapi matanya berbicara—tentang rasa sakit yang pernah ia rasakan, tentang kehilangan yang pernah ia alami, tentang cinta yang tak pernah padam meski segalanya telah runtuh.
“Aku tidak ingin ada lagi anak yang harus dilahirkan dengan vonis seperti anakku,” katanya. “Aku tidak ingin ada lagi ibu yang harus merasakan sakit seperti yang aku rasakan.”
Dan dalam ketenangan itu, ada kekuatan yang luar biasa. Kekuatan seorang perempuan yang telah melewati lembah kematian dan memilih untuk hidup—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain.
Yuli adalah bukti bahwa cinta seorang ibu bisa mengubah dunia. Bahwa dari reruntuhan, seseorang bisa bangkit dan menjadi cahaya bagi orang lain.
Bahwa pelukan seorang ibu—meski harus melepaskan—adalah pelukan yang tak akan pernah lepas. Selamanya.
Sumber Cerita Yuli (Aktivis IPPI NTB – Ikatan Perempuan Positif Indonesia) kepada Nor Hiqmah disela-sela Konsolidasi CEA Regio NTB.
