Untuk pertama kalinya, rumah itu kami bangun sendiri—dari semen dan pasir halaman sendiri. Tak sempurna, tapi kini tak ada lagi yang bisa mengusir kami.
Prompt by Barid Hardiyanto
Hujan baru saja reda di bilangan Cikini, menyisakan aroma aspal basah yang menguap dan genangan-genangan kecil yang memantulkan cahaya lampu jalanan seperti ribuan mata koin perak. Di dalam taksi online yang merayap pelan, Bima menatap keluar jendela. Jakarta selepas hujan selalu berhasil membangkitkan melankolia yang ganjil, sebuah kerinduan akan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia miliki.
Malam ini, ia sedang menuju sebuah acara peluncuran. Undangan digital di ponselnya bertuliskan ‘Lokadana: Menuju Kedaulatan Gerakan’. Nama yang agung, pikir Bima sinis. Ia sudah berada di dunia ini—dunia aktivisme, organisasi masyarakat sipil, dunia proposal dan laporan—selama hampir lima belas tahun. Cukup lama untuk membuat idealismenya keropos di beberapa bagian, terkikis oleh realitas yang bernama ‘kepentingan donor’.
Bima teringat pada sebuah sore yang terik di pesisir Flores, bertahun-tahun lalu. Ia dan kawan-kawannya berhasil membangun sebuah taman baca sederhana untuk anak-anak nelayan. Rak-rak kayu reyot itu penuh dengan buku donasi. Anak-anak datang dengan mata berbinar, mengeja kata demi kata di bawah atap seng yang memantulkan panas. Proyek itu hidup selama dua tahun. Lalu, donor dari Eropa itu mengubah fokus strategis mereka. Pendanaan berhenti. Email penolakan perpanjangan datang dengan bahasa birokrasi yang dingin dan sopan. Dalam enam bulan, taman baca itu kembali menjadi gudang kosong. Buku-bukunya dimakan rayap, dan binar di mata anak-anak itu perlahan meredup, kembali terserap oleh biru dan asinnya laut.
Kenangan itu masih terasa seperti luka sayat. Setiap kali ia mendengar kata ‘keberlanjutan’ atau ‘kemandirian’, Bima hanya bisa tersenyum getir. Itu adalah kata-kata mewah yang ditulis di atas kertas proposal, sering kali tidak punya akar di tanah yang mereka coba bantu.
Taksi berhenti di depan sebuah gedung tua yang dialihfungsikan menjadi ruang serbaguna. Tempat ini tidak seperti lobi hotel berbintang tempat para donor biasanya mengadakan acara. Udara di dalamnya hangat, sedikit pengap, dipenuhi aroma kopi tubruk dan kretek. Orang-orang yang dikenali Bima ada di mana-mana. Wajah-wajah yang sama lelahnya, namun dengan sorot mata yang masih menolak padam. Mereka saling melempar senyum maklum, sebuah sapaan tanpa kata bagi sesama pejuang yang tahu betul rasanya menunggu email persetujuan dari seberang benua.
Ia mengambil segelas kopi hitam dan berdiri di sudut ruangan, mendengarkan pidato sambutan. Seorang perempuan paruh baya dengan suara serak namun tegas berbicara di podium. Kata-kata yang ia ucapkan adalah kata-kata yang Bima kenal, namun malam ini terdengar berbeda.
“… selama ini, kita seringkali membangun rumah di atas tanah sewaan,” ujar perempuan itu. “Megah, indah, tapi kita tidak pernah benar-benar memilikinya. Ketika masa sewa habis, kita harus angkat kaki. Lokadana adalah ikhtiar kita untuk membeli tanah itu. Mencicilnya pelan-pelan, dari kantong kita sendiri, dari kepedulian publik kita sendiri. Agar rumah gerakan ini punya fondasi yang abadi.”
Dana abadi. Filantropi publik. Bima menggulirkan frasa itu dalam benaknya. Bukan konsep baru, tapi mendengarnya diucapkan di tengah ruangan yang dipenuhi wajah-wajah seperjuangan terasa seperti getaran kecil yang menjalar di dasar hatinya yang sudah lama beku. Ia melihat ke sekeliling. Ada Rina, yang gigih mendampingi petani di Kendeng. Ada kawan lama dari Papua yang tak pernah lelah bicara soal hak atas hutan adat. Mereka semua ada di sini, membawa luka dan harapan yang sama.
Acara berlanjut. Penjelasan teknis tentang bagaimana Lokadana akan mengelola dana, menginvestasikannya, dan menyalurkan hasilnya untuk mendanai gerakan-gerakan akar rumput. Tidak ada janji-janji muluk. Yang ada adalah sebuah cetak biru tentang kerja panjang dan sunyi. Sebuah ajakan untuk bergotong-royong dalam skala yang berbeda.
Saat acara hampir usai, Rina menghampirinya, membawa dua gelas es teh tawar.
“Kukira kau tidak akan datang, Bim,” kata Rina, suaranya pelan.
“Tadinya begitu,” jawab Bima. Matanya menatap ke panggung yang kini kosong. “Aku lelah, Rin.”
Rina mengangguk. Ia tidak perlu bertanya lelah karena apa. “Kita semua lelah.”
Hening sejenak di antara mereka, hanya terisi oleh dengung puluhan percakapan lain di dalam ruangan.
“Kau ingat taman baca di Flores?” tanya Bima tiba-tiba.
Rina tersenyum tipis. Senyum yang penuh kenangan. “Tentu saja. Anak-anak itu pasti sudah remaja sekarang.”
“Andai saja…,” Bima tidak melanjutkan kalimatnya. Kata ‘andai’ adalah kemewahan yang menyakitkan.
Rina menepuk pundaknya pelan. “Tidak ada gunanya melihat ke belakang terus, Bim. Lihat ke depan. Mungkin ini tidak akan menyelesaikan semua masalah. Mungkin jalannya akan sangat terjal. Tapi setidaknya, kali ini, rumahnya kita bangun sendiri. Dengan semen dan pasir dari halaman kita. Jelek sedikit tidak apa-apa, yang penting tidak ada yang bisa mengusir kita lagi.”
Ucapan Rina sederhana, tanpa retorika. Tapi kalimat itu menghantam Bima lebih keras daripada pidato berapi-api mana pun. Rumahnya kita bangun sendiri.
Malam itu, saat berjalan pulang di bawah sisa gerimis, Bima tidak lagi merasakan sinisme yang biasa menemaninya. Sebagai gantinya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang rapuh, tapi nyata. Bukan harapan yang meluap-luap, melainkan sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa perjalanan panjang ini mungkin baru saja menemukan sebuah titik awal yang baru. Sebuah tempat untuk menanam benih, di atas tanah yang akhirnya bisa mereka sebut milik sendiri. Dan di langit Jakarta yang keruh, Bima merasa melihat sepotong bintang.[]
#SastraAI #Lokadana
