Gerakan Gen Z dan Reposisi NGO

Mereka tak menunggu komando, tak tunduk pada hierarki, dan tak merasa perlu menumpang pada LSM, ormas atau NGO. Apa dan bagaimana selanjutnya gerakan gen Z ini?

Penulis: Martin Silaban (sila baca tulisannya di Kompas.id)

Artikel ini menyoroti kemunculan generasi Z sebagai kekuatan politik global baru yang mengguncang struktur lama gerakan sosial. Gen Z muncul di tengah “polikrisis”—tumpukan krisis iklim, ekonomi, politik, dan identitas—yang bagi mereka bukan anomali, melainkan realitas hidup sehari-hari. Mereka bergerak spontan melalui ruang digital, tanpa organisasi formal, pemimpin, atau ideologi tunggal, tetapi justru menciptakan mobilisasi lintas negara berbasis solidaritas digital dan budaya pop.

Penulis menegaskan bahwa Gen Z tidak lagi percaya pada institusi tradisional—partai, parlemen, bahkan NGO—yang dianggap lamban, kompromistis, dan tersandera kepentingan donor maupun negara. Karena itu, gerakan Gen Z disebut sebagai post-NGO atau gerakan rimpang (rhizome movement): cair, non-hierarkis, tanpa pusat, dan digerakkan oleh urgensi moral, bukan proyek.

Dalam konteks ini, NGO menghadapi krisis legitimasi dan relevansi. Jika tetap berstruktur kaku dan berorientasi donor, mereka hanya akan menjadi “komentator” yang terputus dari lapangan. Padahal, pola advokasi dan mobilisasi yang dulu menjadi keunggulan NGO kini telah dikuasai generasi digital muda.

Namun, penulis tidak melihat ini sebagai akhir NGO, melainkan momentum transformasi. NGO perlu mengubah dua hal: Struktur organisasi—menjadi adaptif, kolaboratif, dan ramping; Peran sosial—bergeser dari pengendali gerakan menjadi “mikoriza sosial”, yaitu jejaring pendukung yang menopang gerakan dari bawah: menyediakan infrastruktur kolektif, perlindungan digital, pendampingan strategis, dan penghubung lintas generasi.

Akhirnya, artikel ini menyimpulkan bahwa masa depan gerakan sosial tidak lagi tumbuh seperti pohon—vertikal dan tersentralisasi—tetapi seperti rimpang: menjalar, berjejaring, dan terus hidup. NGO hanya akan bertahan jika berani mereposisi diri dalam ekosistem gerakan baru yang digerakkan oleh Gen Z dan logika digital.[]

Baca Lainnya

APBN 2027 Jangan Mengulang Kesalahan Transfer ke Daerah

Penyusunan APBN 2027 harus mereformasi hubungan fiskal pusat-daerah guna mengatasi ketimpangan kewenangan dan beban pembiayaan yang kian menekan APBD.

Obligasi Daerah, Jalan Keluar Fiskal

Pemangkasan Transfer ke Daerah 2026 menuntut kemandirian fiskal pemda. RUU Obligasi Daerah mendesak disahkan demi kepastian hukum investasi produktif.

Bagian 2: Ketika Republik Terlalu Lama Berjalan di Inferno

Refleksi filosofis atas degradasi moral penegakan hukum akibat korupsi sistemik di Indonesia melalui metafora siklus neraka Inferno karya Dante.

Bagian 1: Ketika Republik Terlalu Lama Berjalan di Inferno 

Refleksi filosofis atas degradasi moral penegakan hukum akibat korupsi sistemik di Indonesia melalui metafora siklus neraka Inferno karya Dante.