Laporan Indeks Kedermawanan Dunia 2026

Laporan World Giving Index 2026 menunjukkan kedermawanan global tetap kuat, dengan ikatan komunitas dan kepercayaan menjadi faktor utama.

Sumber: Charities Aid Foundation (Dimuat di World Giving Report’s Donor)

Dalam Laporan World Giving Report 2026 menunjukkan bahwa kedermawanan global tetap kuat meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan sosial di berbagai negara. Sebanyak 61% penduduk dunia tercatat memberikan donasi pada 2025, dengan rata-rata kontribusi setara 1% dari pendapatan pribadi. Laporan ini menemukan bahwa faktor yang paling menentukan tingkat kedermawanan bukanlah kemakmuran ekonomi, melainkan kuatnya rasa memiliki terhadap komunitas, norma sosial yang mendukung praktik memberi, tingkat kepercayaan terhadap organisasi sosial, serta persepsi bahwa donasi menghasilkan dampak nyata. Negara-negara dengan ikatan komunitas yang kuat tercatat menyumbangkan rata-rata 1,7% dari pendapatan, hampir tiga kali lebih besar dibanding negara-negara dengan tingkat keterikatan sosial rendah. Selain itu, donor di seluruh dunia menyatakan bahwa transparansi organisasi dan kejelasan dampak program merupakan faktor terpenting yang mendorong mereka untuk berdonasi.

Dalam perbandingan antarnegara, laporan ini menempatkan Nigeria, Ghana, Mesir, Kenya, India, Uganda, Pakistan, Zambia, Tanzania, dan Zimbabwe sebagai sepuluh negara dengan proporsi donasi terhadap pendapatan tertinggi, dipimpin Nigeria dengan rata-rata 2,8% dari pendapatan. Indonesia tidak masuk kelompok 10 besar tersebut, namun menempati posisi yang sangat menonjol dalam aspek lain. Dalam pemeringkatan berdasarkan pengaruh norma sosial terhadap perilaku memberi, Indonesia berada di peringkat keempat dunia, hanya di bawah Nigeria, Pakistan, dan Kenya. Posisi ini menunjukkan bahwa praktik filantropi di Indonesia sangat ditopang oleh nilai agama, solidaritas sosial, gotong royong, dan kebiasaan membantu sesama yang telah menjadi bagian dari norma masyarakat. Dibanding banyak negara berpendapatan lebih tinggi, Indonesia justru menunjukkan tingkat keterikatan sosial dan budaya memberi yang lebih kuat, sehingga tetap menjadi salah satu contoh penting ekosistem filantropi berbasis komunitas dalam lanskap global.[]

Baca Lainnya

Bagian 2: Ketika Republik Terlalu Lama Berjalan di Inferno

Refleksi filosofis atas degradasi moral penegakan hukum akibat korupsi sistemik di Indonesia melalui metafora siklus neraka Inferno karya Dante.

Bagian 1: Ketika Republik Terlalu Lama Berjalan di Inferno 

Refleksi filosofis atas degradasi moral penegakan hukum akibat korupsi sistemik di Indonesia melalui metafora siklus neraka Inferno karya Dante.

Ilusi Netralitas dan Ekstraktivisme Tata Kelola AI

Forum Digital Rights in Asia-Pacific Assembly 2026 menyoroti kolonialisme data dan watak ekstraktif tata kelola AI akibat kooptasi korporasi global atas kedaulatan digital.