OMS Gorontalo berkonsolidasi dipimpin semangat anak muda, memetakan tantangan advokasi, stigma, dan dana, lalu mendeklarasikan CEA Region untuk solidaritas
Sejumlah organisasi masyarakat sipil (OMS) di Gorontalo menggelar pertemuan refleksi pada 15–16 November 2025 di Kantor Walhi Gorontalo. Kegiatan ini dihadiri oleh Komunitas Sampul Belakang, Mappala Motolomoya, GMPA Mutiara, Salampuan (Sahabat Anak, Perempuan dan Keluarga), Inhides (Institute for Human and Ecological Studies), dan BPG (Binthe Pelangi Gorontalo). Pertemuan ini diinisiasi oleh Dr. Terri Repi dan Direktur Walhi Gorontalo, Defri, sebagai tindak lanjut dari diskusi mereka dengan Sekretariat CEA Nasional.
Dalam pertemuan tersebut, para peserta mengidentifikasi berbagai tantangan internal yang selama ini menghambat penguatan organisasi, yang mencakup faktor-faktor seperti belum terbangunnya konsolidasi advokasi bersama, rendahnya dukungan perlindungan dan keamanan bagi aktivis, serta keterbatasan pendanaan yang berkelanjutan.
Tantangan eksternal juga semakin menguat, seperti minimnya pengetahuan publik tentang kerja-kerja OMS, tingginya stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV), diskriminasi terhadap minoritas gender, serta semakin sempitnya ruang-ruang keterbukaan sipil. Kondisi ini menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat masih perlu diperkuat.
Pertemuan konsolidasi kali ini dipenuhi antusiasme anak-anak muda yang selama ini menjadi penggerak utama berbagai inisiatif masyarakat sipil di Gorontalo. Mereka merefleksikan bagaimana gerakan dimulai dari ruang-ruang kampus, terus bergulir melalui diskusi kecil dan aktivitas literasi yang kerap mendapat stigma “kiri”, hingga kerja-kerja lingkungan yang sering dicap provokatif atau anti pembangunan.
Namun, semangat perubahan tetap terjaga. Energi solidaritas menjadi pendorong utama para aktivis muda untuk tetap bergerak, meski menghadapi banyak tantangan.
Salah satu organisasi yang hadir, Salampuan, membagikan pengalamannya dalam mendampingi perempuan dan anak berbasis keluarga dan komunitas. Seluruh pendamping bekerja secara sukarela, hanya dengan dukungan makan dan transportasi saat turun lapangan. Model kerja serupa juga dijalankan oleh banyak organisasi lain, sekaligus menunjukkan modal dasar gerakan masyarakat sipil di Gorontalo yang bertahan dengan semangat kerelawanan.
Dengan menggunakan instrumen CIVICA, peserta memetakan kondisi ruang sipil di Gorontalo. Dari empat dimensi yang dibahas, rekomendasi yang muncul konsisten yaitu perlunya wadah atau ruang temu rutin untuk membangun konektivitas antarlembaga, memperkuat kerja-kerja basis, serta mengembangkan strategi diversifikasi pendanaan lokal.
Pada dimensi keterlibatan sipil, peserta menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas isu, menyusun visi dan peta jalan advokasi bersama, serta mengidentifikasi potensi ekonomi komunitas sebagai sumber daya gerakan.
Deklarasi CEA Region Gorontalo
Pertemuan ini ditutup dengan deklarasi pembentukan Civic Engagement Alliance (CEA) Region Gorontalo. Langkah ini lahir dari kebutuhan memperkuat jaringan OMS di tingkat lokal.
“Sebenarnya sebelum Sekretariat Nasional CEA datang, kami sudah membulatkan tekad untuk membentuk CEA Region Gorontalo. Ini jawaban atas kebutuhan membangun jaringan,” ujar Terri, inisiator pertemuan dan juga peneliti Inhides.
Deklarasi ini menjadi momentum penting bagi penguatan ruang sipil di Gorontalo. Dengan terbentuknya CEA Region Gorontalo, para aktivis berharap konektivitas, solidaritas, dan kerja bersama antarlembaga dapat berjalan lebih kuat dan terarah.[]
