Kini penguasa tak membawa pedang, tapi slogan dan program yang dibungkus rapi dalam niat baik—cinta yang menenangkan, namun perlahan mematikan daya kritis.
Oleh: David Ardhian
Di tanah Jawa, cinta tak selalu menyembuhkan. Kadang ia datang sebagai pelukan lembut namun beracun. Racun yang membuat lupa, bahwa kasih bisa menjadi alat penaklukan yang mematikan. Dalam kisah klasik Ki Ageng Mangir, cinta menjadi jalan bagi kekuasaan untuk menghancurkan perlawanan tanpa senjata. Mangir tidak takluk lewat perang, tetapi melalui cinta Retna Pembayun, putri dari Panembahan Senapati, Raja pertama Mataram. Mangir menggenggam cinta, lalu mati di pelukan.
Di lembah sunyi, Selatan Yogyakarta, nama Mangir masih disebut dengan nada hormat dan getir. Ia tak hanya dikenang sebagai legenda yang mati di tangan mertuanya, namun juga simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang ingin menelan segalanya. Dalam babad istana, kisahnya ditulis sebagai pemberontakan yang gagal. Dalam ingatan rakyat, Mangir adalah simbol harga diri rakyat. Ia adalah martabat lokal, suara dari pinggiran yang menolak tunduk pada pusat kuasa. Ia bukan pemberontak biasa, melainkan pemimpin spiritual dan politik rakyat, yang ingin mempertahankan otonomi wilayahnya.
Kisah cinta antara Ki Ageng Mangir dan Retna Pembayun adalah alegori politik yang tragis dalam sejarah di Tanah Jawa. Penembahan Senapati, penguasa Mataram tidak mengirim pasukan untuk menaklukkan Mangir, namun ia mengirim cinta. Retna Pembayun diminta untuk memikat, menikahi dan membawa Mangir ke istana. Kisah berakhir tragis, saat Mangir menunduk bersimpuh di depan mertuanya, kepalanya dihantam hingga tewas.
Antonio Gramsci menyebut kekuasaan ini sebagai hegemoni, dominasi yang tampil bukan sebagai paksaan tapi persetujuan. Pada masa kini, penguasa hadir bukan dengan pedang, namun dengan slogan dan program yang dikemas sebagai cinta untuk rakyat. Makan bergizi, koperasi merah putih, bantuan sosial, pemberantasan korupsi hingga paket stimulus ekonomi, semuanya dibungkus rapi dengan niat baik, cinta yang menenangkan, tapi mematikan daya kritis. Seperti Retna Pembayun, cinta kekuasaan datang membawa racun yang lembut.
Begitulah kekuasaan menggunakan populisme untuk bekerja. Konflik dihapuskan padahal motor demokrasi. Mereka yang kritis dirangkul, diberi posisi, proyek dan penghargaan, atau kedekatan simbolik. Pemberontak dipeluk agar kehilangan tajinya. Pierre Bourdieu menyebut sebagai konversi modal simbolik, sebuah penjinakan melalui kehormatan dan pengakuan. Yang dulu lantang kini ikut berfoto bersama penguasa, merasa dilibatkan, namun sesungguhnya sedang diserap untuk menetralkan ancaman perubahan. Kooptasi menggantikan represi, pelukan menggantikan penjara.
Dalam sirkulasi elite, kooptasi menjadi instrumen utama. Mereka yang menolak dipinggirkan, yang mau bergabung dilunakkan, dan yang masih melawan dibungkam oleh buzzer dan algoritma digital. Kepala Mangir modern tidak lagi dihantam dengan gada, tetapi dengan narasi, framing, dan pembunuhan karakter. Michel Foucault telah mengingatkan: kekuasaan modern tak perlu memenjarakan tubuh, cukup menaklukkan pikiran.
Namun sejarah Jawa tidak sepenuhnya tunduk. Dibalik kisah tragis Mangir, selalu ada benih perlawanan yang tumbuh dalam bentuk-bentuk baru. Petani yang menolak tambang, masyarakat adat yang menjaga hutan, komunitas desa yang menanam pangan lokal, anak-anak muda yang membangun solidaritas digital lintas isu, adalah Mangir-Mangir baru menolak cinta semu. Mereka melawan, dengan perlawanan kecil, tenang tapi terus menyala, dalam istilah James C. Scoott adalah bentuk everyday resistance. Mereka terus menjaga ruang otonomi ditengah arus kooptasi.
Tapi kini kekuasaan bekerja lebih canggih. Ia tidak lagi datang dengan pasukan, melainkan dengan konten. Ia hadir lewat hiburan, jargon, dan kampanye yang menenangkan. Ajakan untuk “berpikir positif”, “tidak berburuk sangka”, “menjaga harmoni”, dan “mendukung niat baik pemerintah” menjadi mantra baru kekuasaan. Semua orang diajak “satu barisan”, seolah kritik adalah dosa dan konflik adalah penyakit. Di balik senyum dan slogan itu, kekuasaan menata ulang dominasi dengan halus: menghapus daya kritis, dan menutup ruang otonomi rakyat. Populisme berubah jadi soft dictatorship, yang bukan menakut-nakuti dengan kekerasan, melainkan meninabobokan dengan kasih palsu.
Dari sudut pandang sosiologi, relasi cinta dalam kisah Mangir bukan sekadar urusan personal, melainkan refleksi dialektika antara struktur dan agensi. Cinta menjadi medium di mana kekuasaan dan perlawanan saling mengatur posisi. Gerakan sosial pun demikian: ia tidak semata lahir dari kehendak individu, tetapi dari pergulatan struktural antara kooptasi dan resistensi. Cinta, dalam konteks ini, adalah metafora tentang bagaimana kekuasaan menundukkan gerakan sosial melalui populisme semu.
Hari ini, gerakan sosial berada dalam persimpangan, antara menjaga jarak dari kuasa atau larut dalam pelukan kekuasaan. Banyak gerakan progresif yang kehilangan arah, karena lebih sibuk mencari kedekatan dengan kekuasaan ketimbang membangun kekuatan dari bawah. Ironisnya, rezim kekuasaan dengan wajah militeristik dan tangan berlumuran darah pun, masih dianggap seperti begawan suci penuh niat baik dan cinta yang tulus. Akibatnya gerakan sosial cepat pingsan, solidaritas cepat luntur dan cita-cita perubahan menjadi samar-samar lalu menghilang ditelan relasi kekuasaan. Aktivisme padam bukan karena represi fisik, tapi karena pelukan yang terlalu nyaman.
Kisah Mangir adalah cermin bagi gerakan sosial kontemporer. Bahwa cinta tanpa keadilan hanyalah alat kekuasaan. Cinta sejati kepada rakyat tidak lahir dari ruang rapat istana atau konferensi pers pejabat, melainkan keberanian menjaga jarak, berpikir jernih dan menghidupkan daya kritis. Itulah esensi dari gerakan sosial, aksi kolektif untuk membela kepentingan publik.
Karenanya, merayakan kisah Mangir bukanlah ajakan untuk berperang, melainkan untuk menjadi manusia yang sadar akan dirinya. Ia adalah panggilan untuk mengembalikan manusia pada hakikatnya. Untuk meneguhkan nilai-nilai, menghidupkan martabat, dan membalikkan logika kuasa yang menaklukkan pikiran. Dalam bahasa masa kini, inilah dekolonisasi kekuasaan: pembebasan diri dari cetak biru pemikiran yang dipaksakan oleh struktur dominan.
Bagi generasi baru, kisah Mangir adalah pelajaran penting. Mangir mati di pelukan cinta yang membunuhnya. Kisahnya hidup untuk memperingatkan setiap zaman, bahwa cinta tanpa kesetaraan akan selalu menjadi tragedi. Dan mungkin, gema tembang yang masih terdengar di lembah Mangir adalah peringatan tajam: jangan biarkan cinta, perhatian, dan narasi “kepedulian” yang ditawarkan kekuasaan menjinakkan keberanian berpikir bebas. Sebab kekuasaan kini tak hanya bekerja lewat istana dan pasukan, tetapi juga melalui layar ponsel, algoritma, dan empati palsu yang memeluk tanpa benar-benar mencintai.[]
