Kupang, 13 Maret 2026 — Konsolidasi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Pulau Timor yang melibatkan perwakilan dari Timor, Rote, Sabu, dan Alor dirancang sebagai ruang berbagi daya dan refleksi bersama atas situasi ruang sipil di Nusa Tenggara Timur (NTT). Forum ini mempertemukan OMS lintas isu, mulai dari disabilitas, kekerasan terhadap perempuan dan anak, perubahan iklim, pemberdayaan ekonomi, isu pesisir, pekerja migran, tata kelola pemerintahan, hingga konservasi laut serta lintas generasi dan lintas pulau.
Pertemuan yang berlangsung pada 12–13 Maret 2026 di Hotel Swiss-Bell Kupang ini diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan “Kepemimpinan dan Penguatan Perempuan dan Kelompok Rentan dalam Transisi Transformatif dan Energi Berkeadilan di Indonesia (WE for JET)”. Sebanyak 30 peserta dari 23 OMS dan komunitas hadir, baik secara luring maupun daring. Kondisi cuaca yang tidak mendukung, dengan gelombang laut tinggi, menyebabkan peserta dari luar Pulau Timor mengikuti pertemuan melalui aplikasi Zoom.
OMS dan komunitas yang terlibat antara lain Ume Daya Nusantara (UDN), Yayasan PIKUL, WALHI NTT, YABIKU TTU, Bengkel Apek, CIS Timor, PIAR, KOMPAK, PERSANI NTT, Saksi Minor, Koalisi Kopi, PMKRI, AJI Indonesia, KPI NTT, DW, Rumah Harapan, SSP Soe, Yayasan CEMARA, Rumah Perempuan, Yayasan Tanpa Batas, Komunitas Tuak Pedis (Rote), Yayasan Ekologi Rai Hawu (Sabu), serta Front Mahasiswa Nasional. Seluruh peserta terlibat aktif dalam diskusi mengenai situasi ruang sipil dan keterlibatan sipil di wilayah kepulauan.
Kehadiran aktivis senior, seperti Lerry Buik, turut menghidupkan suasana forum. Dalam berbagai sesi diskusi, para aktivis senior merefleksikan dinamika gerakan masyarakat sipil dari masa ke masa. Mereka menegaskan bahwa refleksi terhadap sejarah gerakan bukanlah romantisme masa lalu, melainkan upaya untuk menumbuhkan kembali semangat kolektif yang kerap tergerus oleh logika proyek dan kepentingan jangka pendek. Banyaknya program di NTT diakui telah mendorong OMS bekerja layaknya mesin proyek, sehingga ruang temu kultural berbasis kepulauan dipandang penting sebagai momen untuk refleksi, pemulihan semangat, dan penyatuan kembali arah perubahan sosial.
Dalam pembacaan situasi ruang sipil, forum mencatat adanya potensi kriminalisasi terhadap aktivis, khususnya pada isu lingkungan hidup di Rote, isu masyarakat adat dan kehutanan di Timor Tengah Selatan (TTS), serta konflik lahan adat di Timor Tengah Utara (TTU). Selain itu, peserta mengidentifikasi 11 isu krusial yang saat ini dihadapi masyarakat, yaitu:
- Militerisasi,
- Perubahan iklim,
- Kemiskinan dan ketahanan pangan,
- Konflik lahan,
- Akses layanan dasar bagi kelompok rentan (perempuan, anak, dan penyandang disabilitas),
- Transparansi dan akuntabilitas tata kelola pemerintahan,
- Kekerasan terhadap perempuan dan anak,
- Infrastruktur jalan dan fasilitas kesehatan,
- Kesehatan mental,
- Tindak pidana perdagangan orang (TPPO), dan
- Perkawinan anak.
Koalisi Kopi juga menyoroti kasus Vian sebagai titik refleksi bersama, di mana banyak komunitas memilih diam akibat tidak adanya sistem safeguarding. Situasi ini menegaskan pentingnya penguatan keamanan digital dan perlindungan aktivis. Dikaitkan dengan perkembangan Society 5.0, OMS dituntut tidak hanya memahami cara bekerja sistem (digital), tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam perlindungan diri dan kolektif.
Dari refleksi yang dilakukan secara partisipatif dan riang, sejumlah usulan strategis dirumuskan, yaitu:
- Perlunya konsolidasi dan refleksi rutin antar komunitas dan OMS untuk memperbarui analisis situasi dan menyusun strategi bersama, disertai pembaruan model pengorganisasian basis yang relevan dengan perkembangan zaman serta penguatan kaderisasi gerakan.
- Pengembangan dashboard dan sistem informasi bersama yang dikelola secara kolektif, termasuk analisis aktor dan pembangunan protokol keamanan serta mekanisme perlindungan bersama, seperti rumah aman antar OMS.
- Pembangunan basis data bersama yang memuat pengetahuan dan kepakaran lintas OMS, sekaligus menghidupkan kembali ruang-ruang kaderisasi dan konsolidasi lintas isu serta lintas generasi.
Pada konteks keterlibatan sipil terhadap perubahan regulasi, forum merekomendasikan perlunya identifikasi serta penyuaraan isu advokasi bersama yang relevan dengan persoalan di Timor dan NTT, termasuk penguatan advokasi kebijakan dan regulasi dengan perspektif interseksionalitas.
Melampaui “Sekat Proyek”
Konsolidasi selama dua hari ini membuka ruang berbagi pengalaman yang sebelumnya hanya terbatas dalam lingkaran proyek tertentu. Ruang saling dukung antar OMS pun semakin terbuka, memperlihatkan besarnya potensi gerakan masyarakat sipil di Pulau Timor.
Selain itu, berbeda dengan wilayah lain, konsolidasi di Pulau Timor menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penguatan jejaring. Tawaran untuk membentuk Simpul Civic Engagement Alliance (CEA) NTT disambut dengan penuh semangat. Peserta menyepakati enam organisasi sebagai penggerak awal (focal point), yaitu Yayasan PIKUL, PERSANI NTT, KPI NTT, Koalisi Kopi, Ume Daya Nusantara, dan CIS Timor. Sebagai upaya yang terintegrasi, hasil konsolidasi Pulau Timor selanjutnya akan digabungkan dengan Pulau Sumba dan Flores untuk membangun gambaran utuh situasi ruang sipil dan keterlibatan sipil di NTT.
Menjelang penutupan, Koalisi Kopi menginformasikan agenda tahunan Jambore Anak Muda yang akan diselenggarakan pada Juni 2026, sebagai ruang konsolidasi bagi gerakan muda CEA. Pertemuan ini ditutup dengan pernyataan solidaritas untuk Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, yang menjadi korban serangan penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal, sebagai penegasan komitmen bersama dalam menjaga ruang sipil dan melawan segala bentuk kekerasan terhadap pembela hak asasi manusia. []
