Dalam diskusi, peserta mengurai peluang keterhubungan gerakan masyarakat sipil dengan memulai dari pembacaan kolektif dan kritis atas konteks Sumbagsel.
Lampung, 5 Desember 2025 — Sejumlah perwakilan organisasi masyarakat sipil (OMS) lintas isu dari wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) berkumpul di Kantor Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) pada 4–5 Desember 2025. Pertemuan ini menjadi lanjutan dari diskusi yang sebelumnya telah berlangsung melalui grup WhatsApp, dengan fokus pada pembacaan situasi gerakan masyarakat sipil di kawasan Sumbagsel. Sebanyak 13 organisasi hadir, terdiri dari perwakilan Bengkulu (2), Sumatera Selatan (2), Jambi (2), dan Lampung (7).
Pertemuan dibuka oleh Febri, Direktur YKWS, yang memperkenalkan Aliansi Keterlibatan Sipil atau Civic Engagement Alliance (CEA) kepada seluruh peserta. Febri menegaskan bahwa kehadiran OMS dalam forum ini merupakan wujud komitmen untuk membangun pola berjaringan baru. Selama ini sebagian besar OMS bergabung dalam jaringan yang bersifat berbasis isu atau sektoral, sehingga jarang ada ruang yang mempertemukan lintas isu sekaligus. “Ini forum pertama yang benar-benar membuat kita merefleksikan, sebenarnya kita ada di posisi mana hari ini,” ujar salah satu peserta.
Membaca Konteks Sumbagsel dan Mengurai Persoalan Bersama
Dalam ruang diskusi, para peserta membongkar potensi keterhubungan gerakan masyarakat sipil dengan memulai dari pembacaan konteks Sumbagsel melalui empat isu utama yang digeluti organisasi: lingkungan, sosial, pendidikan, dan kesehatan.
- Dari pembacaan tersebut, mengemuka berbagai persoalan kritis, di antaranya:
- Tingginya tekanan isu lingkungan, terutama di kawasan Bukit Barisan.
- Sengketa lahan dan konflik agraria.
- Kriminalisasi terhadap pembela lingkungan.
- Minimnya perlindungan dan keselamatan aktivis.
- Dampak perubahan iklim serta bencana ekologis.
Selain isu substantif di atas, OMS juga menghadapi tantangan eksternal yang tidak kalah serius, seperti ketergantungan pada pendanaan donor, resistensi pemerintah terhadap OMS maupun aktivis, krisis regenerasi, serta egosistem di kalangan OMS sendiri.
Interseksionalitas Isu: OMS Tidak Bisa Bergerak Sendiri
Salah satu momen penting dalam diskusi muncul ketika peserta memaparkan kasus kekerasan terhadap perempuan di Lampung yang berkaitan dengan peredaran narkoba di jalur Lampung–Sumatera Selatan. Tingginya kasus narkoba disebut berdampak langsung pada angka kriminalitas dan kekerasan terhadap perempuan serta anak.
Seorang peserta yang bergerak di isu kesehatan reproduksi menambahkan bahwa selama ini fokus mereka menyempit pada aspek kesehatan saja, padahal pengorganisasian masyarakat di kawasan hutan tidak dapat dipisahkan dari isu reproduksi, sanitasi, hingga akses layanan dasar lainnya.
Kesadaran kolektif terkait interseksionalitas isu ini membuka wawasan baru bagi para peserta: bahwa setiap organisasi tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Gerakan masyarakat sipil membutuhkan keterhubungan untuk menjawab persoalan yang saling berkelindan.
Membangun Konektivitas Ruang Sipil: HAM sebagai Perspektif Penghubung
Forum merekomendasikan pentingnya memperkuat ruang sipil Sumbagsel dengan membangun konektivitas OMS melalui perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) dan keadilan sebagai benang merah yang menyatukan semua isu. Selain itu, para peserta sepakat perlunya merumuskan agenda advokasi bersama sebagai ruang konsolidasi untuk merespons isu-isu kritis dan ketidakadilan di wilayah mereka.
Komitmen Bersama dan Langkah ke Depan
Pada akhir pertemuan, seluruh organisasi menyatakan komitmen untuk menjadi bagian dari CEA. Mengingat luasnya wilayah Sumbagsel yang terdiri dari beberapa provinsi, forum menyepakati untuk berjalan sebagai satu kesatuan terlebih dahulu. Namun, jika di masa depan masing-masing provinsi merasa siap, mereka dipersilakan untuk membentuk simpul regionnya secara mandiri.
“Yang penting kita berjalan dulu sebagai satu gerakan yang saling menguatkan,” terang Febri saat menutup pertemuan konsolidasi OMS Sumbagsel.[]
