Respons Bencana Pulau Sumatera: Memperkuat Konektivitas, Solidaritas Warga, dan Mendesak Penanganan Negara

Per Desember 2025, 836 meninggal, 509 hilang, 2.700 luka, dan 570 ribu mengungsi. Total terdampak 1,5 juta jiwa di tiga provinsi.

Sekretariat Nasional CEA

Foto: Reuters, Antara Foto/Iggoy el Fitra

Bencana yang melanda Pulau Sumatera dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan dampak besar bagi jutaan warga. Dari Dashboard Penangangan Darurat Banjir Sumatera BNPB, hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 836 orang meninggal dunia, 509 orang masih hilang, dan lebih dari 2.700 orang mengalami luka-luka. Lebih dari 570 ribu warga terpaksa mengungsi, sementara total populasi terdampak mencapai sekitar 1,5 juta jiwa. Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur vital, termasuk ratusan fasilitas umum, fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah, jembatan, gedung, dan lebih dari 10 ribu unit rumah penduduk.

Kondisi darurat ini membutuhkan gerak cepat, terkoordinasi, dan berpihak pada keselamatan masyarakat. Civic Engagement Alliance (CEA) memandang penting untuk menyampaikan rilis tension ini sebagai bentuk ajakan, penguatan solidaritas, sekaligus desakan atas langkah-langkah yang harus segera dilakukan oleh pemerintah.

Memperkuat Konektivitas dan Arus Informasi Lapangan

Di tengah situasi bencana, informasi yang akurat dan cepat menjadi kebutuhan utama. CEA mendorong seluruh pihak: relawan, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, hingga media untuk saling berbagi pembaruan situasi lapangan, termasuk lokasi posko, kebutuhan mendesak, dan jalur distribusi logistik.

Konektivitas informasi ini penting untuk:

  1. Menghindari tumpang tindih bantuan,
  2. Memastikan wilayah terpencil tidak terlewat,
  3. Memudahkan distribusi logistik yang tepat sasaran, dan
  4. Mempercepat identifikasi kebutuhan prioritas penyintas.

CEA siap mendukung ruang berbagi ini dengan membuka kanal koordinasi dan berbagai pengalaman dari para relawan dan organisasi yang bekerja di wilayah terdampak.

Mengajak Warga Bantu Warga

Selaras dengan slogan CEA bahwa “masyarakat sipil harus campur tangan,” kami mengajak seluruh warga untuk menghidupkan kembali spirit warga bantu warga. Pengalaman dari berbagai bencana sebelumnya membuktikan bahwa kekuatan gotong royong dan solidaritas publik menjadi penopang utama penyintas untuk bertahan di masa krisis.

Dukungan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk:

  1. Menyumbang kebutuhan dasar,
  2. Membuka rumah sebagai titik pengungsian sementara,
  3. Membantu layanan dapur umum,
  4. Atau sekadar menyebarkan informasi yang benar dan cepat.

Gerakan solidaritas ini bukan hanya tanggap darurat, tetapi juga cara masyarakat saling menjaga ketika negara belum hadir sepenuhnya.

Mendesak Pemerintah Melakukan Percepatan Penanganan Bencana

CEA mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera meningkatkan skala penanganan bencana, mempercepat mobilisasi sumber daya, bantuan, dan koordinasi lintas wilayah.

Percepatan penanganan diperlukan untuk:

  1. Memastikan keselamatan warga,
  2. Mempercepat pendataan kerusakan,
  3. Menjamin pemenuhan kebutuhan dasar, dan
  4. Segera memulai fase rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) yang transparan dan partisipatif.

Kami juga mendorong adanya pengawasan publik dan keterlibatan OMS dalam proses ini agar penanganan berlangsung efektif dan akuntabel.

Mendesak Review Tata Kelola Ekologi

Bencana ekologis di Sumatera tidak bisa dilepaskan dari tata kelola lingkungan yang lemah, bahkan korup. Kerusakan hutan, pembukaan lahan skala besar, serta praktik tambang dan perkebunan yang tidak berkelanjutan telah memperbesar risiko bencana.

CEA mendorong pemerintah untuk melakukan review menyeluruh tata kelola ekologi, termasuk:

  1. Meninjau ulang izin-izin tambang dan perkebunan yang bermasalah,
  2. Mencabut izin perusahaan yang melanggar aturan dan menyebabkan kerusakan ekologis,
  3. Memperkuat fungsi pengawasan, dan
  4. Memastikan pengelolaan sumber daya alam yang berpihak pada keselamatan warga dan keberlanjutan lingkungan.

Penanganan bencana tidak boleh berhenti pada tahap darurat; akar masalah ekologis harus diperbaiki agar tragedi serupa tidak terus berulang.

CEA menyerukan agar seluruh elemen masyarakat sipil tetap solid, saling terhubung, dan saling menguatkan. Dalam situasi krisis, suara publik, solidaritas warga, dan keberanian untuk mendesak perubahan adalah kunci menyelamatkan lebih banyak nyawa dan memperbaiki sistem tata kelola yang selama ini rapuh.[]

Baca Lainnya

“Prabowo’s Year One: Trasformismo in Indonesia”

Penulis: Rohana Kuddus (Dimuat di New Left Review, Jan/Feb 2026) Gambar: Getty Images, Pool Artikel “Prabowo’s Year One: Trasformismo in Indonesia” yang ditulis oleh Rohana Kuddus dan...

Reorientasi Tata Kelola Otonomi Daerah di Indonesia

Transisi demokrasi di tingkat lokal telah menempatkan faktor kepemimpinan sebagai determinan utama keberhasilan otonomi

Belenggu Birokrasi pada Pelayanan Publik

Kebijakan desentralisasi di Indonesia yang mulai efektif pada awal tahun 2001 sejatinya dirancang untuk mempercepat dan mempermudah proses pelayanan publik dengan mendekatkan kewenangan perumusan...

Refleksi dan Konsolidasi Organisasi Masyarakat Sipil di Tanah Papua dalam Memperkuat Ruang Sipil dan Demokrasi

Sentani, 12 Februari 2026 – Konsolidasi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Tanah Papua dilaksanakan pada tanggal 11–12 Februari 2026 bertempat di Ruang Pertemuan P3W Padang Bulan, Sinode...