Meski lokalisasi semakin populer, sistem bantuan global dinilai masih mempertahankan ketimpangan kuasa yang menghambat perubahan.
Sumber: Charles Kojo Vandyck (Dimuat di West Africa Civil Society Institute (WACSI), 4 Juni 2025)
Rangkuman Substansial:
Dalam artikel Why the INGO System Remains Stuck and How We Shift It, Charles Kojo Vandyck merefleksikan kembali temuan Reimagining the INGO (RINGO) Inquiry lima tahun setelah proses tersebut berlangsung. Ia berargumen bahwa meskipun sektor pembangunan internasional semakin sering menggunakan istilah seperti lokalisasi, dekolonisasi, kepemimpinan lokal, dan pergeseran kekuasaan, struktur dasar sistem bantuan global masih tetap mempertahankan pola distribusi kekuasaan yang tidak seimbang. Menurutnya, hambatan utama transformasi bukanlah kurangnya strategi, kebijakan, atau kapasitas teknis, melainkan keengganan lembaga-lembaga internasional untuk melepaskan kendali atas sumber daya, pengambilan keputusan, dan legitimasi. Situasi ini diperkuat oleh ketakutan akan hilangnya relevansi organisasi, bertahannya asumsi bahwa organisasi lokal masih kekurangan kapasitas, serta rendahnya tingkat kepercayaan yang tercermin dalam berbagai mekanisme pelaporan dan pengawasan yang berlebihan. Meskipun percakapan mengenai lokalisasi dan keadilan dalam pembangunan kini semakin diterima secara luas, Vandyck menilai perubahan tersebut masih lebih banyak terjadi pada tingkat retorika daripada praktik. Karena itu, ia menyerukan pergeseran dari kontrol menuju kepercayaan, dari representasi menuju redistribusi kekuasaan, dari pendekatan amal menuju keadilan, dari penguatan organisasi menuju penguatan ekosistem, serta dari lokalisasi menuju kepemimpinan lokal yang sesungguhnya sebagai prasyarat untuk membangun sistem pembangunan yang lebih adil, setara, dan berkelanjutan.
