back to top

Dahsyatnya Radio Masa Depan

Radio tidak mati, dia berevolusi menjadi lebih adaptif, digital, dan terintegrasi dengan ekosistem media modern.

Penulis: AM Adhy Trisnanto

Radio bersaing dengan iTunes, Spotify, dan Youtube. Tidak lagi jadi pilihan utama sebagai sumber berita dan musik, terutama bagi generasi muda. Namun, medium yang sudah berusia seabad ini jauh dari mati. Di Amerika, 41 persen kelompok usia lebih dari 55 tahun masih menikmati musik menggunakan radio. Makin muda, persentasenya memang makin kecil. Namun, di kelompok usia 18-24 tahun masih ada 23 persen penikmat musik menggunakan radio (YouGov, Maret 2021).

Hasil survei Jacobs Media menyatakan, radio AM-FM di Amerika masih didengar karena sejumlah alasan. Alasan terbanyak adalah karena mudah dinikmati di dalam mobil, juga karena gratis. Keberadaan radio di dashboard mobil merupakan keunggulan universal. Orang cenderung mendengarkan radio dalam mobil, termasuk gen Z dan milenial.

Keunggulan kompetitif radio lainnya adalah karakter lokalitasnya. Daya tarik lokalitas ternyata meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2018, sebanyak 43 persen responden menyetujui hal tersebut. Di tahun 2024 meningkat jadi 57 persen. Lokalitas ini berhubungan dengan berita lokal, laporan cuaca, pembawa acara favorit, tokoh yang tinggal di kota yang sama, laporan lalu lintas, dan ringkasan mingguan hiburan regional.

Selain alasan itu, orang menggunakan radio karena relasi intim yang terbangun. Interaksi antara host dengan pendengar, menjadikan komunikasi bersifat personal. Pendengar merasa dihargai sebagai manusia.

Di Indonesia, radio mengalami transformasi signifikan dalam tiga tahun terakhir. Survei GoodStats 2024 menunjukkan bahwa 52 persen kelompok usia 18-25 tahun masih mendengarkan radio dalam sebulan terakhir. Data lain menunjukkan 48 persen responden menggunakan perangkat digital untuk mendengarkan radio, sementara 52 persen masih menggunakan radio analog.

Alasan beralih ke streaming radio karena kualitas suara lebih baik (43,8 persen), akses lebih mudah (60,6 persen), jangkauan luas selama ada internet (63,1 persen).

Budaya mendengar tidak menurun, ia berevolusi dari konsumsi linear (radio terjadwal) menjadi on-demand (podcast, streaming). Data menunjukkan, total waktu mendengar audio tetap tinggi, bahkan meningkat di kalangan muda.

Radio memiliki resiliensi luar biasa di era digital dengan tetap mempertahankan posisi sebagai medium audio terpercaya. Radio tidak mati, dia berevolusi menjadi lebih adaptif, digital, dan terintegrasi dengan ekosistem media modern.

Radio Masa Depan

Di masa depan, siaran radio tidak lagi akan terpaku pada program siaran kaku yang membatasi durasi program dan kapan distribusinya. Semuanya bisa terjadi dipicu disrupsi teknologi digital dan AI. Ini berimbas pada perubahan perilaku orang menggunakan radio. Mengubah produksi dan distribusi konten, mengubah model bisnis, menuntut kompetensi baru sumber daya manusia.

Idealnya disrupsi yang terjadi tetap mempertahankan keunggulan unik yang menjadi jati dirinya dan karakter masyarakatnya. Jati diri radio sebagai ruang interaksi sosial berbasis suara, bersifat personal dan intim. Hal demikian terjadi di ABC yang menegaskan: We still do radio, with a different way. Maka, ABC sampai hari ini masih menggunakan frekuensi AM dan FM.

Juga BBC yang bertekad menggunakan AI dan etikal algoritma tetapi berlandaskan nilai-nilai BBC. Tentu saja masyarakat Australia dan Inggris berbeda dengan masyarakat Indonesia. Maka, radio di Indonesia wajib menemukan Indonesia way-nya, bertumpu pada kemajemukan sekaligus kerukunan masyarakatnya sebagai karakter khas Indonesia.

AI mampu memantau sentimen khalayak, memilihkan lagu sesuai suasana hati mereka. Dia membantu mendeteksi emosi pendengar sehingga membantu seorang penyiar bisa menyapanya dan meringankan gundah pendengarnya.

Radio akan berubah jadi penjaja konten seperti sebuah toko serba ada yang buka 24 jam 7 hari sepekan. Orang bebas datang, memilih konten yang dimaui, menikmatinya, kapan pun, di mana pun, dengan cara apa pun. Saat kita sedang joging di taman kota, earphone kita otomatis menginformasikan situasi lalu lintas sekitar dan berita-berita ringan. Kita tidak perlu memilih frekuensi karena konten sudah otomatis tersaji berdasarkan jejak digital kita. Radio jadi ambient media. Hadir tanpa diminta, membantu, dan tidak mengganggu.

Konten radio masa depan tidak lagi sembarang informasi, tetapi informasi yang punya makna personal dan kontekstual. Teknologi memainkan peran mengurasi makna. Dialog interaktif tidak cukup sekadar seru, tetapi mampu membuat pendengar merasa didengar dan dipahami. Radio menjadi ruang interaksi sosial berbasis suara. Adapun teks dan visual tidak lebih sebagai unsur pemanis. Radio masa depan bukan lagi sekadar media penyampai informasi, melainkan platform percakapan publik sekaligus platform pengelola kesadaran publik.

Teknologi membuka peluang bagi radio untuk makin mengeksplorasi karakter-karakter unggulnya. Dalam hal kedekatan lokal, intim dan personal, juga kepekaan komunitas.

Maka, penggunaan AI di radio merupakan sebuah keniscayaan untuk meningkatkan kualitas layanan radio. AI akan menjadi tulang punggung operasional, tetapi pada saat yang sama kehadiran manusia justru dibutuhkan sebagai penjaga sentuhan kemanusiaan dan jangkar emosional. Kolaborasi teknologi dan manusia akan menjadikan radio membentuk resonansi kemanusiaan baru, di mana manusia tetap jadi pusat gravitasi industri ini.

Suara radio adalah suara yang berjiwa. Host bisa melepas tawa larut dalam kebahagiaan pendengarnya atau menangis dengan keharuan yang tulus mewartakan derita orang. Menyapa dengan hangat, dengan rasa, sebagai layaknya seorang sahabat.

Namun, kita perlu mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya. Tantangan pertama yang ada adalah perubahan mindset dalam memahami peluang-peluang inovasi yang ada di luar sana. Tantangan berikutnya adalah kelangkaan talenta digital dan tantangan berikutnya lagi adalah pendanaan.

Transformasi radio memang bukan sekadar transformasi teknologi, melainkan juga transformasi mindset, transformasi konten, transformasi SDM, dan transformasi model bisnis.[]

(Sumber: Kompas)

Baca Lainnya

Gerak yang Belum Terhubung: Refleksi Konsolidasi Masyarakat Sipil Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan 

Konsolidasi OMS Kalteng–Kalsel menyoroti krisis ekologis, ruang sipil tertekan, dan gerakan masyarakat yang aktif tetapi belum menyatu secara strategis. Palangka Raya, 29 Januari 2026 –...

The Whiteness of Power: Racism in Third World Development and Aid

Buku The Whiteness of Power: Racism in Third World Development and Aid karya Paulette Goudge (Lawrence & Wishart, 2003) berargumen bahwa praktik pembangunan dan...

The Nine Roles that Intermediaries Can Play in International Cooperation

Dokumen The Nine Roles that Intermediaries Can Play in International Cooperation (Peace Direct, 2023) menegaskan bahwa peran organisasi perantara internasional perlu bergeser dari pelaksana...

Reimagining Civil Society Collaborations in Development: Starting from the South

Buku Reimagining Civil Society Collaborations in Development: Starting from the South (van Wessel dkk., Routledge, 2023) mengajak untuk membayangkan ulang kolaborasi masyarakat sipil dalam...