Dari Mimpi Besar hingga Kesejahteraan Nyata: Kisah Credit Union Sumber Sejahtera di Meratus, Kalimantan Selatan

Kisah dari Meratus tentang bagaimana tabungan, kepercayaan, dan nilai adat melahirkan kemandirian ekonomi yang tumbuh dari dan untuk komunitas.

Banjarmasin, 25 Juni 2026 — Mimpi besar masyarakat sipil selalu sama: membangun kemandirian ekonomi yang tumbuh dari komunitasnya sendiri, berakar pada sumber daya alam, dan dikelola dengan nilai-nilai lokal. Namun, mimpi itu sering berhenti pada pertanyaan: di mana praktiknya dan bagaimana caranya?

Di Pegunungan Meratus, mimpi itu menemukan jalannya melalui cerita Bang Dul tentang Credit Union (CU) Sumber Sejahtera dalam pertemuan Konsolidasi Masyarakat Sipil Regio Kalimantan Selatan di Kantor LK3 pada 25 Juni 2026.

Awalnya sederhana, bahkan berangkat dari ketiadaan. Masyarakat di balai-balai adat Meratus hampir tidak memiliki akses terhadap layanan keuangan. Perbankan terasa jauh, secara geografis, budaya, maupun rasa. Dari kegelisahan itulah, LPMA bersama para tetua adat bersepakat membentuk sebuah lembaga keuangan yang sesuai dengan napas adat: sebuah Credit Union. Dukungan para tetua adat menjadi kunci karena CU dipandang sejalan dengan nilai gotong royong dan kebersamaan yang telah lama hidup di komunitas.

Modal CU tidak datang dari luar, melainkan dari anggota sendiri. Setiap anggota “dipaksa” untuk menabung, bukan sebagai paksaan tanpa makna, melainkan sebagai proses pendidikan bersama. Pesannya jelas: tanpa menabung, kita tidak bisa saling menolong. Ada simpanan wajib, misalnya Rp25.000, simpanan sukarela Rp25.000, dan tabungan Rp50.000. Dari uang kecil itulah, fondasi ekonomi kolektif dibangun.

Dana anggota dikelola oleh manajemen dengan prinsip transparansi. Pengurus, pengawas, dan manajemen saling mengawasi. Semuanya berjalan apa adanya. “Kami tidak punya banyak ilmu,” kata Bang Dul. Prosesnya penuh coba-coba, dilakukan secara manual, belajar dari kesalahan, dan perlahan tumbuh bersama.

CU ini diterima masyarakat karena kesederhanaannya. Untuk menabung, orang tidak perlu berpakaian rapi dan tidak harus merasa canggung. Mereka bisa menabung sambil ngopi dan berbincang seperti di rumah sendiri. Selain itu, untuk memfotokopi berkas, mereka tidak perlu mencari tempat lain karena fasilitasnya sudah disediakan. CU bukan gedung asing, melainkan ruang sosial.

Seiring waktu, para pengelola menyadari bahwa CU bukan sekadar urusan simpan pinjam. Belajar dari CU lain, mereka mulai membina masyarakat: membangun kesadaran, kedisiplinan, dan visi jangka panjang. Harapan besarnya adalah membangun aset milik anggota, bukan hanya uang, tetapi juga kemandirian.

Sosialisasi CU tidak murah. Konsumsi harus disiapkan dua kali lipat. Namun, hidupnya CU memang bergantung pada keuntungan yang dikelola bersama. Kepemimpinan tumbuh dari kesadaran bahwa semua biaya dari konsumsi, gaji pengelola, bahkan risiko kredit macet bersumber dari uang anggota sendiri. Rasa memiliki pun semakin kuat.

Solidaritas sosial juga dibangun. Ada iuran sosial kematian sebesar Rp100.000 per tahun. Ketika anggota meninggal, keluarga menerima santunan hingga Rp10 juta. Simpanan dan pinjaman pun diasuransikan. Jika peminjam wafat, pinjaman dinyatakan lunas. Beban tidak diwariskan; martabat keluarga tetap terjaga.

Produk CU dirancang sesuai dengan kebutuhan anggota: kredit pertanian, kebutuhan konsumtif, hingga pascapanen. Bahkan, nama produk menggunakan bahasa Meratus; sebuah ajakan halus untuk mencintai dan mendukung identitas sendiri.

Anak-anak muda yang menunjukkan potensi direkrut menjadi staf dan diikutsertakan dalam pelatihan. Melalui jejaring dengan teman-teman di Pontianak, CU memperoleh modul dan pengetahuan baru. Rapat Anggota Tahunan (RAT) pun dibuat secara bertingkat agar partisipasi tetap terjaga.

Dampaknya kini terasa nyata. Kesejahteraan anggota meningkat. Anggota CU tetap tinggal di kampungnya, memiliki lahan, dan mengelola hidupnya sendiri. Ketika ditanya soal Merah Putih, jawabannya tegas: tidak ada masalah. Hak dan perlakuan sebagai warga negara tetap utuh.

Namun, tantangan belum selesai. Kesulitan terbesar saat ini adalah menyambungkan semangat para pendiri dengan generasi muda. Nilai perjuangan dan idealisme belum sepenuhnya menemukan bahasa yang sama. Cara untuk menjembataninya masih terus dicari.

Kisah CU Sumber Sejahtera menunjukkan bahwa gerakan ekonomi berbasis komunitas bukan sekadar mimpi. Ia hidup ketika dikelola dengan kepercayaan, nilai lokal, jejaring, dan keberanian untuk belajar bersama, pelan, manual, dan penuh makna.

Baca Lainnya

Obligasi Daerah, Jalan Keluar Fiskal

Pemangkasan Transfer ke Daerah 2026 menuntut kemandirian fiskal pemda. RUU Obligasi Daerah mendesak disahkan demi kepastian hukum investasi produktif.

Bagian 2: Ketika Republik Terlalu Lama Berjalan di Inferno

Refleksi filosofis atas degradasi moral penegakan hukum akibat korupsi sistemik di Indonesia melalui metafora siklus neraka Inferno karya Dante.

Bagian 1: Ketika Republik Terlalu Lama Berjalan di Inferno 

Refleksi filosofis atas degradasi moral penegakan hukum akibat korupsi sistemik di Indonesia melalui metafora siklus neraka Inferno karya Dante.

Ilusi Netralitas dan Ekstraktivisme Tata Kelola AI

Forum Digital Rights in Asia-Pacific Assembly 2026 menyoroti kolonialisme data dan watak ekstraktif tata kelola AI akibat kooptasi korporasi global atas kedaulatan digital.